Highlighted
Active Level 9

image
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

Lucky Sebastian - detikInet
Sabtu, 7 Maret 2020 20.00 WIB

Jakarta - Tren resolusi kamera smartphone terus membesar, setelah 48MP, kemudian 64MP, sekarang sudah 108MP. Bahkan 108MP pun mungkin belum batas akhir, karena chipset atau prosesor flagship seperti Snapdragon 865, sudah mendukung kemampuan hingga 200MP. Sebenarnya buat apa sih sensor kamera gede-gedean?

Dulu, angka besar resolusi kamera dianggap menjual karena konsumen senang melihat angka yang besar dan sering dijadikan patokan bagus tidaknya sebuah produk. Tetapi kemudian paham ini mulai terkikis. Konsumen sekarang lebih pintar, bahwa resolusi besar belum tentu menjamin hasil foto yang lebih superior.

Bagaimana dengan sekarang? Apakah resolusi besar di kamera smartphone ini masih sekadar gimmick atau memang diperlukan? Problem smartphone sampai sekarang sama, para pengguna smartphone semakin menitikberatkan kemampuan hasil kamera smartphone sebagai pilihan pertama saat membeli smartphone, apalagi pada smartphone papan atas atau flagship.

Sementara ini dari sisi ukuran body, smartphone memiliki keterbatasan. Tidak ada ruang untuk membenamkan sensor kamera dan lensa yang besar seperti pada kamera profesional. Ini alasannya mengapa smartphone memiliki beberapa lensa kamera, algoritma software dibantu AI yang semakin baik, dan menuju resolusi super besar.

Perpaduan ini memungkinkan teknologi kamera smartphone semakin baik dan mendekati kemampuan kamera profesional seperti yang diminta pengguna. Berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu saat resolusi kamera besar hanya sebagai angka-angka pelaris, sekarang ini resolusi besar di kamera smartphone memang memiliki tujuan yang berbeda.

Kondisi ini dimungkinkan karena perkembangan kamera resolusi besar ini juga diikuti kemampuan chipset smartphone yang semakin baik yang bisa support untuk mengolah data resolusi kamera yang besar.

Ini beberapa tujuan digunakannya kamera resolusi super besar:

1. Cropping

Kamera 108 MP seperti yang sudah diperkenalkan Xiaomi dan Samsung, membawa data digital hasil foto yang masif. Satu buah file fotonya bisa berkisar sekitar 20 MB.

Pada kondisi foto diambil saat cahaya sangat cukup, misal di outdoor, gambar yang bisa ditangkap menyimpan banyak detail, sehingga ketika di-cropping sekalipun hasilnya tidak pecah.

image
Foto: Lucky Sebastian

Kondisi ini berguna misalnya saat kita pergi berlibur, ada pemandangan yang bagus yang ingin kita ambil tetapi waktu terbatas, kita bisa menggunakan kemampuan super resolution ini. Saat nanti hendak di posting di media sosial, kita bisa meng-crop beberapa bagian dari gambar untuk komposisi foto yang lebih menarik tanpa kualitasnya menurun.

2. Hybrid Zoom

Resolusi super besar membawa detail gambar yang baik, sehingga jika dipusatkan ke sebagian gambar, akan seperti zooming. Foto resolusi penuh 108 MP jika difokuskan ke sebagian gambar (crop), akan memberikan pembesaran setara 3x - 5x optical zoom.

Dengan kemampuan ini, smartphone bisa melakukan pembesaran atau zooming dengan 1 lensa saja, tidak perlu lensa khusus telephoto.

Atau jika digabungkan dengan lensa telephoto, hasilnya akan menjadi hybrid zoom yang mendekati hasil optical zoom. Teknologi ini seperti yang digunakan Samsung Galaxy S20 Ultra dengan periscope zoom (folding zoom) dan resolusi besar 48MP, sehingga dari 4x optical zoom periscopenya bisa dikembangkan hingga 10x hybrid zoom.

image
Foto: Lucky Sebastian

Digabungkan dengan kemampuan 108 MP pada lensa utama, 10x hybrid zoom di Galaxy S20 Ultra bisa mendapat pembesaran gabungan optikal dan digital menjadi 100x yang disebut Samsung sebagai space zoom 100x.

3. Pixel Binning

Secara teori, semakin besar ukuran pixel sensor kamera, semakin banyak cahaya yang bisa ditangkap. Ini sangat berguna saat pemotretan di kondisi low-light atau minim cahaya.

Kelemahan dari resolusi super besar adalah ukuran pixel sensor yang terpaksa dibuat kecil, agar keseluruhan ukuran sensor kamera tidak terlalu besar sehingga tetap cukup diletakkan di dalam smartphone. 

Rata-rata kamera flagship memiliki ukuran 12 MP kamera dengan pixel sensor 1,4 micron. Sementara 108 MP kamera hanya memiliki pixel sensor seukuran 0,8 micron. Ukuran pixel sekecil ini akan menghasilkan gambar yang kurang terang saat kondisi kurang cahaya.

Untuk itu, sensor resolusi besar menggunakan teknologi baru yang dinamakan pixel-binning, menggabungkan beberapa pixel kecil menjadi sebuah pixel besar untuk foto low light.

Sensor 108 MP di kamera smartphone Xiaomi, menggunakan teknologi tetra-cell, menggabungkan 4 pixel 0,8 micron menjadi 1 pixel berukuran 1,6 micron.

Sementara itu, Samsung di Galaxy S20 Ultra, menggunakan teknologi pixel binning yang lebih baru, menggabungkan 9 pixel kecil menjadi 1 pixel besar yang dinamai nona-binning, sehingga ukuran pixelnya dari 0,8 micron menjadi 2,4 micron.

Dengan algoritma software dibantu AI, foto malam hari dengan pixel binning ini menghasilkan foto malam hari yang sangat terang.

image
Foto: Lucky Sebastian

Untuk foto di tempat yang cukup cahaya pun, dengan teknologi nona-binning ini akan didapat hasil foto yang lebih detail, tajam, dynamic range yang lebar, dan noise yang lebih kecil, karena dalam satu kali jepretan, tanpa kita sadar sebenarnya smartphone mengambil beberapa gambar sekaligus dan menggabungkannya untuk mencapai hasil tersebut.

4. 8K Video

Saat ini flagship chipset di smartphone sudah mampu merekam video dengan format 8K. Untuk bisa merekam video 8K ini, memang dibutuhkan ISP (Image Signal Processor) yang kinerjanya tinggi. Karena dalam setiap detik, video 8K membutuhkan 24-30 gambar dengan resolusi 33 MP.

Jadi kamera di bawah 33 MP tidak bisa membuat video 8K, karena resolusinya tidak cukup. Video 8K ini sangat masif, 16 kali ukuran video FHD, dan 4 kali lebih besar dari video 4K.

image
Foto: Lucky Sebastian

Sambil mengambil video 8K, smartphone seperti Galaxy S20 Ultra juga bisa berbarengan mengambil foto 32 MP. Video resolusi besar ini berguna untuk mendapat detail video yang tinggi, misalnya saat editing, dan bisa di-cropping untuk komposisi yang lebih baik, tanpa kualitasnya menjadi turun.

Video ini juga bisa melihat detail yang lebih tegas untuk objek yang jauh, misalnya saat pertandingan bola, pemain di ujung lapangan bisa dilihat kostum dan namanya.

Saat video 8K di-compile ke resolusi lebih rendah, hasilnya juga akan lebih baik, lebih kaya detail dibanding shooting video dengan resolusi tersebut.

5. Computational Photography

Bukan hanya hardware kamera, software pengolah hasil foto di smartphone perannya kini semakin penting. Sekarang banyak vendor menggunakan konfigurasi dan sensor kamera yang sama, tetapi hasil foto akhirnya berbeda semua karena algoritma software yang diolahnya.

Dengan bantuan AI (artificial intelligence) yang sekarang menjadi core penting di chipset smartphone, setiap foto bisa dikenali objeknya dan dibuat optimal pada proses akhirnya, sehingga foto yang dihasilkan sudah matang dan siap dibagikan tanpa perlu banyak diolah lagi.

ISP pada smartphone juga bisa sekaligus mengolah foto dari 2 atau 3 lensa yang berbeda dalam waktu bersamaan, kemudian menggabungkan hasilnya, menjadi foto yang lebih baik, dengan detail, kecerahan, warna, dan dynamic range yang optimal.

Pada computational photography ini, resolusi super besar memegang peranan penting untuk mendapatkan foto yang lebih kaya dengan detail, karena setiap pixel bisa membawa informasi sendiri yang unik.

Dengan resolusi super besar 108 MP, berarti ada 108 juta buah pixel yang masing-masing membawa informasi berbeda yang unik, untuk diolah. Kemampuan mengolah secara langsung beberapa lensa kamera ini digunakan Samsung di Galaxy S20 series-nya untuk membuat fitur single take, dimana dalam sekali pengambilan foto, semua lensa bekerja mengambil berbagai macam hasil foto dan video pendek.

Tujuannya, agar tidak kehilangan momen, seperti saat tiup lilin, anak pertama belajar jalan, atraksi, dan lain-lain, yang bisa memastikan momen tersebut akan terekam dengan baik dengan berbagai varian.

6. Bonus: Banner

Walaupun mungkin tidak sebagai tujuan utama, kamera dengan super resolusi jika dicetak bisa menghasilkan gambar yang sangat besar, dalam ukuran banner hingga kira-kira tinggi 4,2 meter.

Sebelumnya, tidak terpikirkan bahwa foto dari smartphone bisa dicetak dengan hasil bagus dalam ukuran sebesar itu. Mungkin saja nanti menjelang pilkada, dimana banner atau poster besar ada di mana-mana, para kandidat akan membuat fotonya dari smartphone dengan resolusi besar ini.

Demikian beberapa fungsi dari lensa kamera dengan resolusi super besar yang sekarang ini banyak digunakan pada smartphone. Melihat kegunaannya, sudah bisa dikatakan tujuan kamera resolusi besar ini berbeda dengan kamera resolusi tinggi beberapa tahun lalu.

Perkembangan kamera resolusi besar ini sekarang juga diikuti berbarengan dengan kemampuan chipset yang semakin mumpuni untuk mengolahnya. Jadi, kemungkinan trend smartphone dengan kamera resolusi besar ini akan terus berkembang dengan angka-angka MP yang semakin fantastis dan kemajuan teknologi di sensor kamera, juga software dengan AI di belakangnya.

(rns/rns) 
9 Komentar
Highlighted
Expert Level 1
ada kelemahan di autofocus-nya yah yg ultra version. hanya make pdaf di sensornya gak ada dual pixel pdaf kayak yg ada di 20 dan 20+ atau galaxy sebelumnya dimulai di s7.
apa karna biaya produksinya akan lebih besar jika samsung gunakan dual pixel pdaf pada sensor 108mp nya? atau ada hal lain menyangkut teknologi pada manufakturing samsung yang gak mampu membuat phase detection focusnya untuk tiap pixel yg berjejer?
semoga samsung bisa mengatasi keterbatasan focus yang ada pada sensor 108mp s20 ultra pada Note20 nanti.
semoga sensor 108mp di Note 20 menggunakan 100% pixel focus.
gak apa-apa walau harganya dimahalin. yang penting sensor kameranya lebih kuat dan gak memiliki kelemahan apapun. focus super cepat untuk video dan foto seperti pada flagship sebelumnya.
Balas
Memuat...
Highlighted
Expert Level 1
dan jangan buat lengkungan layar di Note 20 nanti menjadi hampir flat kayak layar S20 series.
lengkungan layar di Note 8, Note 9 dan terutama di Note 10 udah sangat cantik. dan Note 20 harus menggunakan desain lengkungan Note10.
jangan pakai desain layar S20 yang hampir flat.
Balas
Memuat...
Highlighted
Active Level 9
mungin diterapkan di seri note selanjutnya sob 😁
Balas
Memuat...
Highlighted
Expert Level 1
kok bisa samsung mau kembali lagi ke masa Galaxy Note 5 dan versi dibawahnya. gak ada lagi curve di layarnya. produsen lain udah berlomba-lomba bikin layar lengkung hingga 120°. samsung malah mau balik ke zaman Note 5. padahal lengkungan layar yang ada di ponsel, di pelopori oleh Samsung.
lagi. layar lengkung Note 10 udah bagus banget. ketimbang menggunakan desain flat screen atau waterfall screen.
desain layar Note 10 berada ditengah antara layar hampir flat/100% flat dan layar super ekstrim lengkung seperti di S6 dan ponsel cina sekarang.
dan itu yang membuat Note 10 terlihat super cantik.
Balas
Memuat...
Highlighted
Expert Level 1
@nganuaja.
iya masbro. semoga. saya heran sama samsung. dia yang pelopori, eh... dia sendiri yang ingin hilangin desain ini.
samsung, terutama samsung mobile gak gunakan layar extreme curve dari divisi samsung display, tapi malah dijual ke produsen cina.
barangnya sendiri gak dipake, ckckckck
Balas
Memuat...
Highlighted
Active Level 9
wkwk sans aja sob 😂
Balas
Memuat...
Highlighted
Expert Level 1
😅😅 soalnya saya penggemar berat versi Note masbro. jangan sampai lah Note 20 Ultra nanti jadi kayak desain S20 dan punya kelemahan focus kamera seperti s20 ultra ini.
Balas
Memuat...
Highlighted
Moderator
Moderator

Halo kak terima kasih atas pengetahuan lebih tentang kameranya! sekarang ModThree jadi tauuu 

Balas
Memuat...
Highlighted
Active Level 9
bareng2 modthree 😁🙏
Balas
Memuat...