Iwankarmawan
Active Level 8

image


image


image

Pada 22 Januari 2020 atau 13 hari sebelum aku meninggalkan bali, entah tersambar apa, temanku mengajak untuk ke pantai. Mumpung saat itu sudah libur kuliah dan tiga temanku ini tidak pulang ke kampung halaman mereka.

Sore itu sekitar jam 5 waktu setempat kami pergi berempat dengan menaiki 2 motor. Cuaca yang bersahabat menambah rasa tidak sabar ingin segera sampai disana.

Luar biasa. Pantai terbentang luas dengan ombak yang cukup besar bergulung, dengan matahari yang mulai terlihat hampir terbenam. Menikmati sunset ditemani dengan cemilan tahu murah yang kami beli disana dengan 2 aqua dingin yang kami beli patungan ber empat.

Dingin air minum, cemilan yang pedas asin gurih, angin yang berhembus menyejukkan, hangatnya matahari, dan obrolan yang sungguh tidak berbobot tapi sukses membuat kami tertawa. Perpaduan sempurna. Tidak ku sangka hal-hal sepele semacam ini ternyata lebih membahagiakan dari apapun.

Sekitar jam 6.40 atau hampir jam 7, matahari terlihat ingin pamit untuk pergi dengan bulan yang siap menggantikannya malam itu. Sungguh detik-detik matahari terbenam terindah yang pernah kulihat selama hidupku yang sudah 19  tahun ini. Matahari terlihat cepat tenggelam dengan warna langit yang sangat amat indah dengan terlihat ada satu bintang kecil yang bersinar dengan ditemani bulan.

Aku sangat rindu dengan pemanadangan dan suasananya kala itu. Benar-benar hangat. Kami baru keluar dari lokasi pukul 7.30 dan karena di pantai tidak ada lampu satu pun, kami mengandalkan senter **bleep** untuk memandu berjalan sampai ke parkiran. Pulang dari sana, kami mampir ke salah satu jualan makanan di pinggir jalan yan mana itu adalah cilok yang sudah entah berapa kali dibeli oleh temanku karena memang enak. 

Dan selepas darisitu kami mulai berpisah, dengan 2 temanku ini pergi ke kos mereka serta aku mengantarkan 1 temanku kembali ke kosnya baru setelah itu aku pulang ke tempat ku. Sampai di kos, aku tertawa-tawa sendiri melihat foto dan mengingat momen tadi. Belum lagi melihat celana dan kaki yang penuh pasir karena kami tidak cuci kaki disana dikarenakan mahall luar biasa yakni 10 ribu hanya untuk cuci kaki. Karena mahal dan secara kami mahasiswa dan uang terbatas akhirnya kami biarkan kotor sampai di kos baru bersih-bersih hehe😅😅

Saking indahnya momen itu aku sampai mencatat setiap percakapan waktu itu di note dalam **bleep** ku. Rindu sekalii entahlah bahkan rasa rindu ini seperti tidak cukup lagi di salurkan hanya lewat telpon. Dan bahagianya lagi mereka masih mengingat momen ini sampai detik ini.🥰💜